27 Okt 2015

Apa itu baik?


Ya, apa sih yang dinamakan baik? Kamu tau?


Apakah 'Serigala Jahat'  di dongeng HC Andersen itu jahat? Apakah kalo kita MEMBIARKAN Senar, Senir, Senor dimakan oleh si Serigala berarti kita jahat? Disney dan dongeng2 anak2 kebanyakan menggambarkan begitu sih.


Padahal, coba tanya para petualang yang hidup dari merekam gambar kehidupan liar di alam bebas. Yang hasil rekamannya berupa film2 dokumenter bisa kita nikmatin di channel2 sebangsa National Geographic dan Animal Planet. Peraturan mendasarnya adalah, mereka hanya boleh merekam, no intervention allowed!



Andai cheetah itu akhirnya berhasil menangkap si kelinci putih lucu dan melahapnya hidup2, mereka hanya boleh terus berada di balik kamera. Bukannya nembak kepala si Cheetah biar si kelinci selamat.


Karena... itu lah yg namanya circle of life. Memang sudah semestinya begitu.


Kalo kamu pikir menyelamatkan tiap calon mangsa si cheetah adalah baik, maka kamu telah jahat sama si cheetah, karena kelak dia bakal mati kelaparan.


Memihak kelinci kita jahat sama cheetah, memihak cheetah kita jahat sama kelinci :)


Ha!


Binatang ga mengenal apa itu baik, apa itu jahat. Yang mereka tau hanya naluri. Insting untuk bertahan hidup. Nothing -at all- personal!


Malaikat? Malaikat bukan baik. Malaikat ibarat robot petugas yang hanya akan berbuat sesuai jobdesc dari Tuhan selaku bos mereka, pencipta mereka. Titik. Di luar itu, tidak akan mereka lakukan. Karena memang sudah disetel begitu dari sononya.


Analoginya seperti kipas angin yang dari pabriknya memang sudah di-setting buat muter2 baling2nya yang berefek menggerakkan udara menjadi angin, maka MUSTAHIL bagi si kipas angin bekerja di luar kodratnya....... tiba2 menayangkan gambar TV misalnya, atau bisa buat masak nasi.


Mustahil mengharapkan malaikat pingin makan atau kawin atau rebutan naik pangkat, karena settingan mereka adalah TANPA NAFSU. Mustahil mengharapkan malaikat membantah. Misal tau2 pada suatu Selasa Pahing, Rokib mendadak mogok gak mau nyatet amalan baik kita gitu? Gak bakal, karena settingan mereka adalah PATUH, titik!


Jadi jika saya mengatakan para malaikat bukannya baik, sama sekali bukan dalam rangka mengecilkan arti dari mereka. Semata2 fakta. Semata2 menempatkan sesuatu pada tempatnya.


Sadarkah kalo konsep baik dan buruk hanya berlaku buat kita -manusia? (dan jin, sebagai mahluk yg juga dalam hidupnya punya pilihan. Tapi secara gue manusia, males ah bahas jin...).


Ya, cuma kita yang diberi 2 potensi: memilih baik atau memilih buruk. Dan karenanya, cuma kita juga kelak yang bakal dimintai pertanggungjawaban atas pilihan demi pilihan yang kita ambil selama hidup.



Sementara Tuhan berada di luar konteks baik dan buruk/jahat. Beliau YANG MENCIPTAKAN konsep itu. Beliau adalah hakim, bukan yang dihakimi. Ya, Beliau memang Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Pemberi, Maha Perkasa, dll... tapi bukan dalam porsi sesederhana baik atau jahat. Beliau bekerja dengan cara yang sangat kompleks dan tidak akan tertampung dalam 2 mangkok berlabel "baik" dan "jahat".


Kalo seperti itu, akhirnya nanti kita terjebak melabeliNya baik saat diberi kaya, sehat, cantik, kedudukan, dll..... dan menganggapNya jahat ketika ada wabah penyakit, bencana alam, peperangan, dsb...


Ah, sering banget denger makian ini... "Masih menganggap Tuhan itu baik?! Dimana Tuhan dalam AIDS, perang, dan bencana?!!" oh ya yaaa, sering banget. Terutama dalam film2  Hollywood. Atau argumen2 mereka yang akhirnya memilih menjadi atheis.


Nah kan, jika pikiran kita memaksa Tuhan berada dalam apa yang (justru sesungguhnya) Ia ciptakan, maka siap2 tersesat lebih jauh dalam labirin otak kecilmu.


Tapi, bukannya sifat2 Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Pemberi, Maha Memuliakan. dll...itu bisa dikategorikan sifat baik, Des?


Kalo gitu coba gue tanya balik, berarti sifat2 Tuhan lainnya yang Maha Menghukum, Maha Menghinakan, Maha Menyempitkan, dll....itu mau lo kategorikan kemana?


It's His CAPABILITY!


Semua sifat2 keMAHAan Beliau adalah semata KAPABILITASNYA. Bukan untuk digolong2kan ke wadah baik or buruk. Sekali lagi, bukan Tuhan yang dinilai/dihakimi oleh mahluk, melainkan sebaliknya.


Kepada Dzat terMaha ini, part kita bukan menghakimi, tapi MENGENAL. Setelah MENGENAL lalu apa? Lalu takjub, lalu takut, lalu cinta. Ketiganya dirasakan bersama'an. Lalu? Akhirnya takluk bersimpuh menghamba.



“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Lah gimana mau sudi beribadah dan menyembah kalau kita nggak takluk dulu? Gimana mau takluk menghamba kalau kita nggak punya rasa takjub-takut-cinta sama sesuatu tersebut? Gimana mau takjub-takut-cinta kalau kita nggak mengenal hal2 yang bisa membuat kita merasa seperti itu?


Itulah makanya, part pertama adalah mengenal.


Gimana cara mengenalnya? Untuk itulah alam semesta ini (termasuk diri kita) Ia ciptakan. Agar kita mengenal kehebatan dan keMaha'an-Nya. 


Sebelum jauh2 mencari tahu Tuhan ke seluruh penjuru bumi dan langit, pertama2... longoklah ke dirimu sendiri.


Manusia diciptakan menurut "citra" Tuhan itu sendiri. Dan jika kamu termasuk mereka yang mengartikannya secara dangkal, maka ya, kamu pasti akan mengartikannya sebagai...oohh, jadi Tuhan itu kayak kita dong yaaaa?? Punya mata, idung, mulut, alis, gigi, kepala, tangan, kaki, .....apa lagi? sejauh mana kesama'annya? termasuk kelamin juga punya? termasuk bokong, lubang anus?? Kan katanya citra diri Tuhan sama kayak kita.


Maha Suci Engkau dari prasangka yang sehina itu, Yaa Tuhan. Engkau berbeda dari cipta'an-Mu (Mukhollafatu lil hawaaditsi). 


Citra yang dimaksud adalah sebagian sifat2 Beliau. Saat mahluk2 yang lain semua dibatasi potensinya, manusia tidak. Nyaris semua citra diriNya diturunkan ke kita. Meski tentu kita dalam porsi kecil.


Sifat2 / KAPABILITASNYA seperti: membuat/mencipta, menghancurkan, menyayangi, mengasihi, mendengar, melihat, memelihara, memaafkan, memuliakan, menghinakan, membalas kebaikan,  menghukum, melindungi, mencemburui, dll, dsb...... Beliau titiskan sepercik pada masing2 kamu, hey manusia.


Sepercik saja. Karena yang Maha mah ya tetap Dia semata.


We are God's masterpiece creature.


Dan untuk menambah semua kedahsyatan itu, kita diberi free will. Kebebasan untuk berkehendak. Belum cukup? Kita juga diberi kehormatan menjadi "perwakilan"Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi.



Pada suatu dakwah di TV bulan puasa tahun 2014 lalu

Sang Ustadz:
Jika Islam hendak dirangkum dalam satu kata, 

Saya deg2an, dalam hati saya membatin "Islam adalah adil."


maka kata itu adalah.....

Saya menyahut "Adil. Adil. Ayo bilang 'adil' pak Ustadz..."


....ADIL.

....dan saya sukses merinding. Masyaa' Allaah.


Yap, memang ADIL adalah salah satu hakikat dari agama Islam.


Definisi "adil" yang paling tepat, bukanlah "seimbang", " sama rata", ataupun "tidak berat sebelah". Bukan. Kalau kamu punya 3 anak, yang sulung sudah mahasiswa, yang tengah anak SMA, dan si bungsu masih SD, bukanlah adil namanya jika ketiganya secara seimbang dikasih uang saku Rp.5.000/hari dengan sama rata.


Adil itu... Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menempatkan sesuatu sesuai waktunya. Menempatkan sesuatu sesuai porsinya.  


Kita ambil contoh.....


Apakah mencipta itu baik? Apakah menghancurkan itu buruk?


"Mencipta" dan "Menghancurkan" adalah KAPABILITAS. Dimana kamu memilih meletakkannya lah yang menentukan ia menjadi baik atau buruk.


Menciptakan kompor untuk mempermudah orang memasak, ya masuk kategori baik. Menciptakan rudal untuk menyerang negara lain,  masuk kategori apa? Hmmm, padahal sama2 MENCIPTA.


Menghancurkan mobil mantan pacar kamu karena diputusin, tentu masuk kategori buruk. Menghancurkan sebuah pabrik narkoba yang merusak generasi muda bangsa, menurut kamu gimana? Padahal sama2 MENGHANCURKAN.


"Pencemburu" dan "Sombong". Apa yang terlintas di kepalamu saat saya menyebut dua kapabilitas itu?? Buruk? Dosa? Salah?


For your info, "Sombong" bukanlah sebuah keburukan.............. jika Tuhan yang melakukannya. 


Loh gimana sih? Kan kita manusia aja dilarang sombong, ini kok Tuhan sendiri malah sombong?


Islam adalah agama bagi kaum yang berpikir. Pikir dulu dong kenapa sih sombong itu dilarang? 



” Keagungan adalah jubah-Ku, kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa menanggalkan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya.”


Ya, dan hanya Ia yang berhak memakainya. Bagaimana tidak? Ia yang menciptakan langit yang tak diketahui batasannya beserta seluruh isinya. Sombong terlarang bagi kita karena kita ini hanyalah seberkas debu di kolong langit ini, karena kita adalah yang diciptakan (bukan yang menciptakan), karena kita penuh dosa, karena kita tak berdaya tanpaNya, .....................maka apa yang membuat kita pantas untuk sombong?


Jubah kesombongan itu milikNya. Sifat sombong itu bukannya buruk, melainkan hanya membutuhkan pribadi yang tepat untuk mengenakannya. Siapa? Ya pemilik itu jubah lah!


Jika ada sepotong baju, bisakah kamu mengatakan baju itu baik atau buruk, benar atau salah? 


Baju itu menjadi baik dan benar jika dikenakan pemiliknya. Dan begitupun menjadi hal yang buruk dan salah jika ada seseorang yang bukan pemilik baju tersebut tapi "mencuri" dan memaksa memakainya.


Cemburu. Burukkah? 


Karena Tuhan pun Maha Pencemburu.  


Iiiih...masa Tuhan sifatnya gitu sih? 

Lah situ pikir nitis dari mana sebagai manusia kita bisa merasakan rasa cemburu kalau bukan karena kita diciptakan dari citra diri-Nya? Bagaimana kamu menempatkan rasa cemburu itu lah yang akan menentukan apakah ia menjadi baik atau buruk.


Kecemburuan yang salah ya udah pasti yang nggak pada tempatnya (entah lebay, entah karena prasangka semata, atau cemburu sama orang yang bukan haknya). Nah kalo suami kamu peluk-pelukan sama perempuan lain di depan mata, masa iya kecemburuan kamu sebagai istri terlarang? Lha wong berhak total kok. 


Sedangkan Tuhan SANGAT AMAT PALING BERHAK untuk cemburu dalam hal ke-tauhidan. Beliau Maha Esa gitu loh! Ya sangat berhak lah cemburu pada "tuhan-tuhan" palsu yang kita berhalakan.


Pernah seorang teman berkata, dia tidak akan mau menyembah pada Tuhan yang sombong, mengagung2kan kehebatanNya, juga Tuhan yang pencemburu dan suka menghukum. Dia lebih mau menyembah Tuhan yang humble dan baik katanya.


Disitu dia sudah bersikap tidak adil. Karena memaksa Tuhan berada pada posisi manusia, yang terlarang untuk sombong dan mengagung2kan diri. Manusia lah yang wajib bersifat rendah hati karena sepantasnya, seadilnya, sesuai posisinya ya memang demikian, merendahkan hati karena sadar sebagai mahluk kita memang  tidak ada apa2nya. 



Lah Tuhan yang Maha Segala kok disuruh humble? Kok disuruh berada pada posisi mahluk?


Untuk kapabilitas Tuhan dalam menghukum?


Kita biasa mendengar kalimat ini di agama apapun saat seseorang merasa terdzolimi "Saya nggak akan balas, biar Tuhan yang membalas perbuatannya." yang menyiratkan dengan tegas sebuah pengakuan dari kita semua bahwa yang paling MAMPU DAN ADIL UNTUK MEMBALAS/MENGHUKUM adalah Tuhan.


Dan, ehm, sekadar numpang tanya, adakah agama yang hanya memiliki konsep surga, tanpa neraka? Setau saya sih ngga ada ya. Kalo agama yang konsepnya punya surga, ya pasti juga punya neraka. Keduanya ada dalam genggaman kuasaNya, baik nikmat surga maupun siksa neraka. Ho'oh, termasuk neraka versi Agama teman saya tadi yang katanya milih Tuhan yang nggak suka menghukum. Uhuk.





Dalam Islam, yang diagung2kan bukan hanya beribadah demi rasa cinta semata. Tapi juga atas dasar kekaguman, rasa takut, dan tentu cinta itu sendiri. Karena keberadaanNya, seluruh kapabilitasNya, mencakup dari ketiga hal tersebut.


Penghukuman Tuhan adalah kapabilitasNYA yang paling "pelit" Ia berikan, baik dunia maupun akhirat. Pengampunan dan Kasih Sayang lah yang paling royal Beliau anugrahkan sama kita. Tapi berjuta-juta kesempatan yang diberi itu pun tentu tetap ada tepinya kan?



"Sesungguhnya kasih sayangKu mengalahkan murkaKu" (HR Bukhari Muslim)



"Allah sangat menyayangi hambaNya melebihi kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya." (HR Bukhari Muslim)










Jadi bicara penghukuman Tuhan, adalah tidak adil jika kita menempatkannya seolah2 sebagai suatu keburukan. 


Begitu juga dengan seisi semesta ini. Bukan baik atau buruk. Melainkan POTENSI.


Heroin memiliki potensi baik, kalau ia digunakan untuk pengobatan dan dalam dosis yang tepat. 
Heroin menjadi buruk, kalau ia digunakan pada orang sehat dan dalam porsi berlebihan.
  

Seks memiliki potensi baik, saat dilakukan oleh sepasang suami istri. 
Seks memiliki potensi buruk, ketika dilakukan dengan bukan pasangan sahnya secara agama.


Kekuatan berpotensi baik, kalau digunakan untuk bekerja halal dan melindungi yang lemah.
Kekuatan berpotensi buruk, saat digunakan semena2 dan menyakiti pihak lain.


Harta berpotensi baik, jika ia dicari dengan cara yang halal dan dikeluarkan untuk kebaikan dan kewajiban.
Harta berpotensi buruk, ketika ia diambil dari hak orang lain, ketika membuat kita lupa daratan, rakus, dan serakah.


Politik adalah potensi baik, kalau dengannya kita mengatur hajat hidup orang banyak dengan amanah.
Politik adalah potensi buruk, bila dengannya kita menghalalkan segala cara, digunakan untuk menguasai, menindas, dan merampok hak2 orang lain.


Jadi bukan heroin, seks, kekuatan, harta, atau politiknya yang busuk..... free will mu yang menentukannya jadi wangi atau apek.


Kesimpulannya apa, Rangga? *oia lupa bilang, ini hasil catatan obrolan saya di airport tempo hari pas ketemuan lagi sama Rangga setelah sekian purnama* *boookk, berat yeee pembahasannya, gak ketemu 12 taon yang dibahas ginian!*


Intinya, ADIL-lah dalam menempatkan segala sesuatu. Menjadi buruk hanya jika kita menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, atau tidak pada porsinya, atau juga tidak pada waktunya.



Bentar yah Rangga, saya mo ngomong ke anak2 saya dulu. Iya Rangga, saya udah terlanjur kewong and 2x brojol semenjak kamu tinggal ke New York tanpa kabar.... T^T


Nak, betapa bertubi2nya pertanyaan2 kritis yang Momi terima sejak masing2 kalian bisa berbicara dan mulai belajar menganalisa kehidupan. Kadang nggak percaya dengan isi obrolan2 kita yang seakan lagi diskusi sama teman seumuran. 


Momi harus nulis ini semua berdasarkan sebagian chit-chat kita sehari2 (jaahh, katanya tadi hasil obrolan sama Ranggaaa...), untuk pengingat kalian kelak ya. Sebagai anak manusia, momi pun pernah melalui semua pertanyaan2 itu.


Untuk apa kita diciptakan? Kenapa hal buruk itu ada dan tidak Tuhan hentikan saja? Kenapa ini itu dilarang? Tuhan ada dimana? Tuhan bagaimana sih bentuknya? Ada tanpa awal dan akhir itu gimana? dan masiiihhh banyak lagi............


Bertanyalah, cari tahu lah, dan berpikirlah (dengan cerdas).... sebagaimana Nabi Ibrahim dulu berproses dalam "menemukan" Tuhannya. Selama itu mengenai ciptaan, kau bebas "mencari" jawaban, agar kelak saat kau temukan, kau benar2 teryakinkan. 


Tapi yang pasti nak, jika itu tentang Dzat-Nya, menyerahlah. Secara Tuhan yang menciptakan kita, jadi Tuhan yang paling tau sejauh mana kemampuan otak kita. Makanya Ia jauh2 hari sudah berpesan,



"Janganlah engkau pikirkan dzat-Ku, tapi pikirkanlah cipta'an-Ku"



Kenapa? Karena nggak akan mampu kapasitas otak kita memahami keMAHA BESARAN dzat-Nya. Sebagaimana sebuah ember nggak akan mampu menampung air seluas samudera.



Please be Adil. Aer sesamudra kok mau dimuatin ke satu eimbyeerr.... trus pas gak muat lantas berkesimpulan naif : Air sebanyak satu samudera itu gak ada! Buktinya adanya cuma se'ember nih!



Judgement is for GOD alone










Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

0 komentar:

Posting Komentar