16 Agt 2013

... S A L I N G ...

..... heheheee.... nyambung cengengesan dari postingan yang kemaren


Brur, waa postingan lo yg kemaren tuh yaaa... hadeuuhh...


Kenape Jeng?


Gimana ya? Eerrr, agak sensitif.


Sensitif gimana?


Ya, jujur sepanjang gue ngebacanya, gue sering kali .... "iya juga yaa?" dalem hati. Tapi tau kenapa, kok gue takut mengiyakan secara resmi gitu loh. 


Secara resmi gimana? Pake gunting pita?


Rasanya seperti berkhianat dengan doktrin yang gue pegang selama ini. Rasanya, kalo gue mengiyakan, berarti gue jadi merendahkan orangtua gue dong?


Bahahahah... jangan dong! Gila apa merendahkan ortu? Kok mikir gitu toh Jeng?

Iyeee Brur. Gimana tuuu? Padahal, secara refleks tiap baca kata demi katanya sih hati kecil gue setuju. 


Mari kita potong sampe situ aja percakapan via WeChat dg sahabat gue yang jenggotan ini (makanya gue panggil 'Jeng' kan?), karena selanjutnya gosip kita jadi ngalor ngidul ga penting. 


E tapi perasaan dia tadi itu penting sih. Karena saat pertama2 gue pun ngerasain hal yang sama: Takut seperti mengecilkan arti orangtua. Padahal ... ah masa? Bagian mananya?


Gue tuh cuma nggak suka terjebak dalam doktrin dan dogma. Ya maksudnya fine sih kalo para ortu dan guru mendoktrin kita dengan nilai2 yang mereka yakini, karena itu emang udah jadi tugas mereka. Tapi in the end, gue harus cari tau sendiri kebenaran doktrin itu.


Sejak lahir, yang selalu didengung2kan ke kuping kita para anak, hanyalah gimana hebatnya, superiornya, berjasanya orangtua. Kita WAJIB tunduk patuh sopan santun bahkan bisa dibilang setengah mendewakan mereka. Dan doktrin2 itu gak semata berasal dari ortu sendiri, karena seluruh lingkungan, media, alam semesta, bahkan sampe ayat2 kitab suci membenarkan itu. Mampus, mana berani  'n mana sempat punya pemikiran lain coba?


Ternyata, selama ini kita KITA DIPAKSA BERPIKIR SATU ARAH.


Lo tau gak Jeng, "berkat" cara berpikir yang kayak gitu, lahirlah ortu2 yang arogan. 


Contoh, mereka hobi mengungkit2 dan menyebut2 jasa2 mereka, yang padahal sesungguhnya itu memang kewajibannya.


Mereka bebas menitahkan kpd kita untuk sopan, bilang "ah" saja berdosa (yang bahkan mereka selalu mengutip ayatnya) tapi mereka sah2 saja bicara kasar atau keras pada kita karena status mereka orangtua. 


Mereka bebas mengungkapkan pendapat kepada anak, yang ISInya atau CARAnya paling menyakitkan sekalipun, tapi anak harus menahan2 perasaan/pemikirannya, karena kalau sampe ga sejalan dengan pendapat ortu, meski disampaikan dg cara sesantun apapun, tetap dianggap TIDAK SOPAN. Beugh!


Banyak kasus dimana ortu menelantarkan anak, saat si ortu menua dan anak telah mapan, ortu tsb datang kepada anak meminta belas kasihan, jika si anak masih berat untuk menerima karena batinnya masih terluka, masyarakat langsung mencapnya sebagai "anak durhaka" dengan dalih klasik "Bagaimana pun salahnya, kan dia orangtua." 


Gue nggak dalam posisi membenarkan/menyalahkan perbuatan si anak. Yang mau gue garisbawahi di sini adalah, betapa tidak adilnya kita dalam menilai hubungan anak-ortu. Kita mudah amnesia bahwa mungkin aja loooh... perbuatan durhaka anak didahului oleh kedurhakaan ortunya.  Jadi kalo mau menyalahkan anak, kenapa tidak menyalahkan ortunya dulu?


Ooohh, mustahil ortu disalahkan, karena BUDAYA KITA "MENGHARAMKANNYA". Ortu bebas berbuat salah dan akan tetap mendapat simpati dari semua pihak.


Masih heran kenapa begitu banyak orangtua arogan bertebaran, dan bahkan tanpa sadar mewarisinya kepada kita saat kita menjadi orangtua? Masih heran kenapa begitu banyak anak yang tertekan?


Memang benar ayat yang selalu diagung2kan para ortu itu, bahwa tutur kata kita harus sopan kepada orangtua, bahkan sekadar mengucap "ah" saja dosa sekali.


Tapi....... tolong jangan timpang, isi kitab suci toh tidak melulu soal bagaimana seorang anak harus berakhlak pada ortunya. Gimana dengan ayat2 Qur'an dan Hadits2 yg mewajibkan ortu untuk memberi teladan lebih dulu pada anak? Atau secara general (bukan khusus anak-ortu) ayat yang menyebutkan bahwa:


"Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaff: 2-3)


Mengutip Aa Gym, "Jadi kalo berharap punya anak yang bertutur kata lembut dan bersikap santun, ya orangtuanya dulu yang harus pertama kali mencontohkan bagaimana itu bertutur kata lembut dan bersikap santun."


Benar ada hadits yang menyebutkan bahwa "Ridho Allah tergantung dengan ridho orangtua", tapi orangtua yang gimana dulu? Yang gimana hayoo cobaa para orangtua jawaaabb.... naah kan hapalnya cuma ayat2 yang ngenakin dirinya, tanpa mau adil mencari tau gimana kriteria2 yang disebutkan di Qur'an dan Hadits tentang gimana jadi orangtua yang baik di mata Allah. 

Kebanyakan manusia itu maunya hanya mengutip ayat2 yang menyebutkan hak2nya, tapi ayat2 yang menyebutkan kewajiban2nya "disembunyikan".


Sungguh Tuhanku itu Maha Jenius dan Maha Adil. Surga memang di bawah telapak kaki ibu, namun Beliau kunci hubungan anak-ortu itu dengan JUGA memuliakan sang anak, bahwa doa seorang anak soleh lah yang jadi salah satu perkara amal jariyah orangtuanya meski mereka telah wafat.


Kenapa begitu? Karena Tuhan gak menginginkan ada pihak2 yang menyombongkan dirinya, merasa dirinya paling dimuliakan, dan akhirnya kepeleset dan seenak2nya dalam berprilaku.


Jadi gini ya Jeng, .... masih nyimak kan looo... apa mulai nyabutin bulu idung kayak biasa?


Yaa, jadi bagaimana kalo prinsip kita dalam hidup ini kita bikin sesimpel satu kata aja..... yaitu kata "SALING". Ya, cukup itu.


Perbuatan baik apapun jangan atas dasar hierarki. "Saling". Saling sopan. Saling menghargai. Saling komunikasi dengan wajar. Saling mau mendengarkan. Saling merawat. Saling bertukar ilmu.


Oke Des kalo lo mau menyamakan bahwa ortu merawat anak, kelak anak merawat ortu. Ortu membiayai anak, kelak anak bisa jadi membiayai ortu. Tapi gimana dengan mendidik, membangun karakter, memberikan pondasi pola pikir? Itu sesuatu yang gak akan pernah anak bisa lakukan balik ke ortunya kan?


Hohohoo... itu sih kata ortu yang arogan Jeng. Coba tanya sama para guru2 sejati, mereka pasti ga akan arogan bilang bahwa "Saya lah yang telah mengajarkan ilmu pada kalian!"... guru2 sejati akan bilang "Sesungguhnya, bukan semata saya yang mengajar kalian, tapi saya juga banyak belajar dari kalian dalam proses pendidikan ini."


Itu fakta yang baru gue sangat rasakan semenjak punya anak.


Dalam proses yang gue pikir gue sedang mengajarkan mereka, ternyata gue sering tertampar2 dengan situasi dimana gue lah yang jadi banyak belajar berkat kehadiran mereka, manusia2 yg padahal masih sangat kecil2 ini.


Ya, ga perlu nunggu mereka dewasa ternyata untuk mampu menyampaikan ilmu ke gue, orangtuanya.


Momi: Ka, tolong ambilin anu dong.


Kk: Iya Momi


Momi: Kaaa... tolong taroin ini di kulkas dong.


Kk: Oke Momiii


Selang bbrp hari.....


Kk: Momi, tolong ambilin remote dong


Momi: Ya ambil sendiri dong Ka


Kk: Ya tolong Momi


Momi: Ka, kalo bisa ambil sendiri ya ambil sendiri dong! Kan punya kaki, digunain dong, jangan males.


Kk: Momi juga suka nyuruh2 Kaka


Momi: Ya itu kan karena lagi ga bisa kerjain sendiri, makanya minta tolong


Kk: Engga, sering Momi nyuruh Kaka padahal Momi cuma lagi duduk2


Momi: *speechless sesaat*...... ya Momi kan orangtua, wajar kalo nyuruh2 anak. Kalo anak ga pantes nyuruh2 orangtua


Kk: Kenapa Momi?


Momi: Ya nggak sopan aja


Kk: Kenapa kalo anak ngga sopan Momi? Kalo Momi kok sopan nyuruh2 padahal bisa kerjain sendiri?


What a slap in the face! Mo jawab apa coba?


Di situ gue mikir "Anjrit, iya juga ya? Kenapa kita para ortu sering memposisikan anak seperti budak? Kenapa perbuatan nyuruh2 karena males itu jelek kalo anak yang lakuin, tapi kalo ortu yang lakuin menjadi fine aja? Kenapa kata2 kasar itu jelek untuk anak ucapin, tapi kalo kita yang ucapin menjadi sah? Kenapa anak kalo merokok dianggap salah, tapi kalo bapaknya yang merokok dianggap wajar, padahal keduanya sama2 punya paru2? Kenapa ini? Kenapa itu?"


Ya Jeng, dengan sesimpel itu, anak gue baru aja memberikan pelajaran, ilmu, pendidikan, ke gue. 


Itu baru satu kejadian, dan itu terjadi saat dia dulu berumur 3 tahun. Sepanjang rentang bertahun2 ini, ga terhitung pelajaran2 yang terus dia sampaikan tanpa dia sadari melalui kepolosan dan kekritisannya.


Kita pikir kita semata-mata satu arah yang mendidik mereka? Jual jubah arogan itu di tokobagus.com. Kita juga turut dibentuk ulang oleh mereka. Kita banyak belajar melalui mereka.


Apalagi nanti saat mereka sudah makin dewasa, makin berilmu, makin berwawasan, jangan malu untuk menerima input2 dari pemikiran anak2 kita selama itu baik. 

Seperti kata nyokap gue "Iqro. Bacalah. Ayat pertama dari Qur'an itu... Jangan sempit memaknainya hanya sebatas buku. Alam raya ini luas terbentang untuk kita "baca". Ilmu bisa datang melalui berbagai penjuru. Buka mata hati dan pikiran kita untuk membaca ilmu2 Allah."


.... termasuk dari anak2 kita.


Jadi bukan dalam rangka mengecilkan arti orangtua saat gue bikin postingan kemarin. Gue hanya ga ingin terjebak menjadi ortu yang arogan seperti kebanyakan yang gue lihat di sekeliling gue. Na'udzubillah, yaa Allah lindungilah aku dan suamiku dari sifat2 menyombongkan diri sebagai orangtua yang bisa membuat anak2 kami tertekan karenanya.

Orangtua itu mulia. Anak pun mulia. Jika ingin dimuliakan oleh anak, muliakan pula mereka. Hidup itu simpel, baik, dan indah kalo kita "saling" :)



Met Iedul Fitri semua ^___^

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

6 komentar:

Juminten mengatakan...

Mbak, ijin share postingan ini ke Facebook dan Twitter ku, ya. ;)

ita mengatakan...

sama ya mba des, kek surga di telapak kaki ibu..
bukan berarti ibunya doang yg minta dihormati karna si surga ada di balik jempol kaki doi..
justru itu KEWAJIBAN si ibu nyediain surga buat anak2nya yaa.. :)

smogi kita bisa sediain sorga paling endah buat anak2 kita yaaa, eyminnnn!! :D

cium peluk buat kalum dan pipi bapao :*

achie mengatakan...

iya sih, ada temenku yang juga merasa bahwa dia selalu bener sebagai orangtua dalam mengurus anak-anaknya. Padahal mah, yaaa.. itu seperti yang mba des ceritain. :D

Bekal baru buat aku juga saat jd orangtua nanti nih, hehe..

desya mengatakan...

Sharing is sexy, nil ;)

desya mengatakan...

ih iya bnr bgt itu, ta. Cun cayang jg utk Khay yaaa...

desya mengatakan...

 mdh2an bs brguna ya chi, aq jg msh trs bljar jd ortu yg baik, & proses bljar itu seumur idup sih...

Posting Komentar