13 Sep 2009

"Lepas saja jilbab kamu...!"


Pulang dari Plangi (Plaza Semanggi) hari ini abis acara bukber temen2 Instud, ditutup dengan insiden kecil2an.

Ceritanya gue, Gembul, dan Kalum udah sampe di lobi. Sampe pintu kita berhenti karena baru keinget untuk ngelipet stroller dulu. Sebelum Mbul mundur, di belakang gue emang ada seorang ibu2 muda sekitar 35-an tahun lagi marah2 sama anak2nya yang tidur2an gelimpangan di lantai. "Awas ntar kamu keinjek orang! Berdiri nggak!!" yah teriakan2 semacem itulah, yang sama anaknya dicuekin aja dan mereka tetep tidur2an di lantai. Bener2 tidur2an deket pintu orang keluar masuk.

Pas Mbul mundurin stroller, ga sengaja roda depannya ngelindes pergelangan kaki tu anak. Gue refleks teriak "AWAAASS...!!" yg sama Gembul langsung buru2 diangkat strollernya.
Jadi pada dasarnya tu anak ga kesakitan, apalagi Kalum lagi gue gendong, bukan lagi di atas stroller. So, tu stoller yang emang ga berat2 amat itu pada dasarnya sama sekali gak menyakiti ataupun melukai anak tadi.

Still, gue spontan menatap wajah ibunya dengan penuh penyesalan dan meminta maaf. Tu ibu yang juga spontan teriak "TUH KAN! IBU BILANG JUGA APA!! KELINDES KAN KAMU!!" menanggapi permintaan maaf gue dengan tatapan seolah ingin memakan gue idup2 pake lalap kangkung. Yaahh, gue berusaha untuk nggak menanggapi tatapan sadisnya dengan mengalihkan pandangan gue keluar. Yang penting kita memang gak sengaja, dan gue pun minta maaf bukan basa-basi.

Tapi tau' yah, mungkin dia pengen cari kompensasi sama anak2nya yang bandel2 dan gak kunjung nurutin omelan2nya yang terus nyuruh mereka berdiri, eeee.... makin lama omelannya malah jadi merembet ke kejadian barusan.
"Berdiri kamu! Nanti kelindes lagi!! Kalo kelindes lagi nanti ibu jadi marah sama orangnya!"

Sampe di situ gue cuma narik napas, tanpa mengalihkan pandangan. Gue tetep liatin ke luar.

"Seenaknya aja ngelindes orang! Nggak punya perasaan! Emang dianggep apa'an maen lindes2 aja!"

Gue merasa kalimat itu sekarang jelas ditujukan ke gue yang hanya berjarak 3 jengkal dari dia. Akhirnya gue memutar kepala, menatap ibu2 itu tepat di belek matanya. Dia balas menatap gue dengan kadar kesadisan yang mencapai tingkat advance, dan terus melanjutkan omelan2nya yang makin tertuju ke gue.

Gue: Bu, tadi kan saya sudah minta ma'af.
Belau.. eh Beliau: Kalo jalan pake mata dong!! Maen lindes aja! Ini anak orang!
Gue: Suami saya tidak sengaja dan saya sudah minta maaf.
Beliau: Gimana kalo anak kamu yang dilindes?! Mau nggak?!
Gue: Lho, salah anak ibu sendiri tidur gelimpangan di situ? Ini kan memang tempat orang lewat?
Beliau: Kamu pake mata dong kalo jalan!!
Gue: Yang ngelindes suami saya kok, bukan saya.
Beliau: Bilang sama suami kamu, dia nggak punya otak!
Gue: Ya bilang aja sendiri. Tuh orangnya..... (hihihi)
Beliau: Kamu juga gak punya otak!
Gue: Ibu juga. *sampe sini gue nahan ngakak*

Mendengar gue nyaut kaya' gitu dia nampak makin esmosi jiwa.

Beliau: KAMU TUH GA PUNYA OTAK!!!
Gue: Ibu juga gak punya... *santai kaya' di pantai*

Well, i don't mean to be rude. Tapi kalo suami gue yang berjalan di jalur yang benar tempat orang keluar masuk dibilang gak punya otak, berarti dia yang anaknya gelimpangan di tempat gak semestinya mestinya lebih dari gak punya otak dong? Dia sendiri kan yang bikin rumusan itu? Gue sih cuma ikutin rumus dia aja. Kan dari awal dia sendiri yang bilang ke anaknya kalo gelimpangan di situ bisa keinjek orang... jadi kalo mo nyalahin, ya salahin anaknya dong sesuai kata2nya sendiri. Kalo itu kejadian di anak gue juga gue ga bakal ngomel ke orang, tapi ya resiko gue sendiri.

Dan puncak dari keramahan.. eh i mean kemarahannya setelah kalimat gue terakhir tadi adalah:
"KAMU GAK PUNYA OTAK! LEPAS AJA JILBAB KAMU!! S*TAN KAMU!"

Lalu dia keluar dari pintu keluar beserta anak2nya yang lucu2.

Apa? Apa ada yang denger percakapan mesra tadi apa enggak? Wooo.... satu lobi nontonin kita semua... hehheheh. Dan setelah kejadian tadi berlalu, beberapa orang yang melintasi gue (yang juga menonton hiburan gratis tadi) menyapa gue dan mengatakan bahwa memang ibu tadi yang salah, dan apa yang gue lakuin udah sesuai gimana mestinya.

Bahkan ada ibu2 yang menambahkan dengan rada emosi, "Untung mbak yang digituin, kalo saya... uhhhh, udah saya omelin kali tu orang!" Gue cuma ketawa aja.

Jujur aja, gue sih santai ngadepin orang2 kaya' gitu, ga pernah pake emosi. Saat gue nyeritain di sini dan kalimat2 gue gak gue kasih tanda seru sama sekali, karena memang sejujurnya gue mengeluarkan kalimat2 itu dengan nada datar saja.

Yang bikin gue keberatan lebih pada kalimat pamungkasnya tadi, bukannya say bye2 see you tomorrow kek gitu ya, ni malah suruh gue lepas jilbab. Haduh haduuhhh....

Sebagaimana kebanyakan orang, ibu2 tadi pasti termasuk yang berpikiran kalo orang berjilbab itu mesti suci tanpa kesalahan, tanpa emosi, tanpa konflik, pokoknya lebih yahud dari malaikat deh!

Pertama, apakah berarti kalo gue tidak pake jilbab itu sebuah pembenaran untuk bisa bicara 'sebebas merpati' seperti dia? Tidak relevan. Manusia manapun, berjilbab atau tidak, beragama atau tidak, ya memang mesti menjaga tata krama.

Jilbab adalah komitmen terhadap aurat. Titik.

Kalo gue gandengan tangan sama orang yang bukan muhrim gue, naaa... baru cocok deh lo pertanyakan jilbab gue. Selebihnya mah, gue hanya manusia biasa yang terus belajar utk jadi orang yang lebih baik.

Jilbab bukan takaran bahwa seseorang sudah sempurna, justru jilbab hanya satu dari sekian banyak faktor yang menjadikan seseorang lebih baik. Dia hanya 1 faktor, yang 1 faktor itu pun belum tentu dia udah beres. Seperti gue misalnya, jilbab gue sendiri belom bener, masih jauh dari idealnya jilbab yang dianjurkan dalam agama Islam. So, baru 1 faktor ini aja gue masih dalam tahap belajar, masa' lo ngarepin gue sempurna tanpa cacat cela secara keseluruhan? Yang kalo ngelakuin kesalahan dikit aja di hidup seorang yang berjilbab langsung disuruh lepas jilbabnya?? Ampun DJ....

Bukan mendramatisir masalah gue sama ibu2 tadi. Hanya kata2 seperti itu memang terasa familiaaarr... sekali di kehidupan kita sehari2. Betapa mudahnya orang meloncat ke isu SARA, padahal inti permasalahan yang sesungguhnya tidak ada hubungannya sama sekali.

Pernah seorang temen gue ngerasa tidak dilayani secara optimal oleh seorang penjaga toko, dan ujung2nya............... mereka perang mulut dan temen gue memaki penjaga toko tadi dengan kalimat "DASAR C*NA! KALIAN SEMUA MEMANG KAYA' GINI!"

Serta merta gue protes berat sama temen gue itu. Tidak ada relevansinya sama sekali etnis itu dengan ke-enggak profesionalan si penjaga toko. Itu bisa terjadi sama orang dari etnis manapun. Kenapa kalian harus berpikir sedemikian sempit?

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

8 komentar:

Kabasaran Soultan mengatakan...

Memang sih .... terkadang kita mendapatkan reaksi orang yang kadang sudah diluar takarannya.
Di kota besar seperti Jakarta ini sebenarnya banyak sekali orang yang mengalami gangguan jiwa tanpa mereka tahu bahwa mereka sedang sakit.
Barangkali si ibu yang over reaktif tersebut salah satu dari mereka yang mengalami tersebut.
Adalah terlalu bodoh kalau kita ikut terpancing kedalam prilaku menyimpang katakanlah marah hanya karena menerima perlakukan yang ngak normal.
Selalulah serahkan temperatur batin kita kepada hal2 yang berada dalam kendali diri.

nice sharing

Newsoul mengatakan...

Ya ya ya. Kalau liat isi postingan ini, si ibu yang diceritakan di atas memang berlebihan ya. Tapi tentu saya tidak berhak mengadili wong saya tidak liat faktanya. Saya setuju, tatakrama harus dijaga oleh siapa saja, laki-laki, perempuan (belrjilbab atau tidak). Kita juga harus adil melihat diri kita sendiri dan orang lain dengan fair. Nice posting mbak. Selamat menjalankan ibadah puasa.

bingkie mengatakan...

aduh duh... untung saya nggak ada di situ.
kalo saya disitu, niscaya saya yang bakal ngomel ke ibu itu, hehehehe
mudah2an kesabarannya berbuah pahala. pahala orang shaum kan berlipet2 ya.. :)

de asmara mengatakan...

saya pribadi nggak merasa sepenuhnya benar di kejadian kemarin. mungkin lebih bijak kalo saya menyingkir/menjauh aja saat saya merasa kalimat2nya makin menusuk, ketimbang saya jawab2in. Buang waktu & tenaga juga toh debat sama orang yg lagi kalap begitu??

yaahh, itung2 pelajaran buat saya sendiri deh..

big sugeng mengatakan...

Waduh... memang kalau sudah menyinggung "simbol-simbol" tertentu pasti bikin orang yang tadinya sabar jadi emosi.
Tapi kalau lihat kasus di atas kayaknya sumber masalahnya di beliau nya itu, terus endingnya ada yang nglayani (walaupun dengan kata yang datar). Mungkin beliau itu lagi banyak maslah jadi gampang esmosi.

de asmara mengatakan...

cerita di sini sangat saya persingkat, mas Sugeng. karena aslinya omelan ibu2 itu panjang banget dan bukan lagi menyindir tapi menggunakan kalimat2 yg jelas2 dia arahkan ke saya.

10 menit saya bertahan... tapi terkadang ada kalanya orang2 seperti itu memang mesti dihadapi, bukan dihindari. & meskipun terdengar 'ngguyon', tp setiap kalimat saya sesungguhnya semata2 ngelurusin semua tuduhan dia aja, semuanya sesuai logika kok. bukannya ngeledek dia... coba deh dibaca lagi :P

saya sih nggak emosi dg 'simbol2' tadi, buktinya setelah kalimat yg mencapai puncak kekasarannya itu saya nggak membalas kata2nya atau mengejar dia kan? saya cuma keberatan secara umum, dan cerita di atas sih cuma contoh kasus...

Tanti Kursyaf mengatakan...

dia naksir klai des ama jilbab yang lo pake..makanya suruh dilepas....ikikkikikikikikikikikikkik....

hadidot mengatakan...

ehem,baru baca tulisan ini hihihi...

memang gak penting tuh ibu2,dia lagi stres aja jadi gak punya sasaran lagi buat marah2 selain kepada: teng ing eng... ya siapa lagi kalau bukan KAMU des? (yg terdekat dan kayaknya bisa disalahkan,meskipun sebenernya gak ada yg salah) :D

Posting Komentar