29 Jan 2010

Again-again fatwa

Maksudnya, lagi2 bahas soal fatwa :P

Sebenernya postingan kemarin rasanya sudah cukup. Tapi apa karena gaya gue nulis suka kebanyakan becanda ya jadi poin2 yang gue maksud jadi kurang tersampaikan dengan baik.

Sebelumnya, gue ingin menegaskan bahwa gue BUKAN dan insya Allah TIDAK INGIN termasuk dalam golongan orang2 yang:
1. Prejudis. --> Menghakimi sesuatu saat belum mendapat informasi yang cukup memadai. Saat gue belum begitu mengerti, gue lebih memilih diam. Dan jika hal itu menarik minat gue, maka gue bakal berusaha mencari tau lebih dalam. Setelah lebih mengerti, barulah gue bersuara.

2. Impulsif. --> Melakukan sesuatu dengan sekonyong-konyong / keinginan yang muncul tiba2. Untuk hal2 semacam beli pajangan yang lucu2, baju buat Kalum, itu memang SHERIIINGG! Tapi untuk urusan berpendapat, gue paling emoh latahan. Hanya karena lagi rame bahas itu so gue ikut2 bahas juga. Nope. Not me. Gue membahas sesuatu karena itu penting di mata gue, terlepas apakah tema itu sedang hip atau udah basi.

3.Anti total / fanatik total. --> Mo bener kalo udah anti semuanya dipandang salah, mo salah kalo udah fanatik semuanya dipandang bener. Wah, enggak deh. Buat gue, kata2 'kebenaran hanya milik Allah semata' itu ya harus bener2 dimanifestasikan. Kebenaran bisa datang dari mulut seorang ulama, atau orang biasa2 kaya gue, atau bahkan bajingan penjahat sekalipun. Tapi bukan dari mulut siapa kebenaran itu meluncur yang harus kita permasalahkan, karena tiap kebenaran yang terucap, bukan berasal dari kita melainkan dariNya.
Jadi jangan anti mengakui kebenaran meski datangnya dari orang yg kita anggap tidak capable, dan jangan takut mengakui kesilapan seseorang meski orang itu dikenal begitu dalam ilmunya. Dan mohon dengan sangat, jangan menyamakan mengkoreksi dengan tidak menghormati :)

 Okey, balik ke soal fatwa.

  • Foto Prewed

Daripada terlalu panjang ngemeng, rasanya bakal lebih enak kalo gue kasih gambar aja ya. Nah mari perhatikan gambar Bu Guru di bawah ini, anak-anak....

Kalo diibaratkan dalam graphic batang, rasanya nggak aneh kalo banyak yang ngerasa aneh soal larangan foto pre-wed.
Only God knows what these 2 people had did during the red phase. Sementara foto pre-wed dilakukan hanya dalam hitungan jam atau hari, dan dilihat orang banyak (mo bikin maksiat sejauh mana?).

Anggaplah ada adegan bergandengan, atau berpelukan, atau kecupan... (harap dicatat, tidak semua foto prewed bergaya seperti itu) yang mana dalam Islam itu dikategorikan sebagai zinah (dan saya tidak menyangkal bahwa ya memang itu termasuk zinah juga), tapi cobalah berpikir lebih panjang, Andai mereka tidak rikuh melakukannya saat foto prewed, berarti mereka memang sudah biasa pula melakukan itu (bahkan mungkin lebih) semasa mereka pacaran dulu.

Jadi kenapa foto prewed yang diributkan, sementara apa yang mereka lakukan hari itu sudah biasa mereka lakukan juga berbulan2 atau bertahun2 sebelumnya? Apakah dengan melarang foto prewed, karena tidak ada bukti otentik mereka bersentuhan (berupa gambar yang tercetak), lalu membuat kita lega dan mengira masalah tidak ada atau masalah selesai?

Maksiat yang dipublikasikan? Jika bergandeng tangan atau merangkul di foto prewed dikategorikan sebagai itu, silakan dan sah2 saja. Tapi coba tengok anak2 muda sekarang yang berpacaran di mal, di kafe, di jalan..... apa namanya? Coba tengok sinetron kita, bioskop kita, yang dipenuhi adegan yang jauh lebih parah dari sekedar bergandeng tangan.....

Lalu saya menjadi tidak mengerti, kenapa foto prewed yang mendapat porsi sebegitu mendalam?

  • Rebonding

Gambar pohon di atas marilah kita ibaratkan permasalahan soal rebonding.

Rambut bisa diolah begini dan begitu. Direbonding, dikeriting, dicat, digimbal.... entah apa lagi teknologi2 baru dalam fashion rambut nantinya. Yang jelas, tidak akan ada habisnya, dan apakah lalu siap2 meluncurkan fatwa lagi satu demi satu untuk memungkas segala bentuk jenis hair do?

Saya punya teman yang memutuskan melepas jilbabnya. Bukan karena habis rebonding. Rambutnya juga (jujur) nggak indah2 amat untuk dipamerkan.

Akar permasalahan terletak di dirinya sendiri yang ternyata belum cukup paham kenapa seorang wanita muslim mesti menutupi auratnya.

Dengan melarang rebonding dan teman2nya, kita hanya mematahkan ranting2 dari pohon permasalahan. Ranting yang sama akan tumbuh lagi, bahkan akan tumbuh ranting2 baru. Bagaimana kalau akarnya saja yang kita cabut?

Lebih intens lah menyebarkan syi'ar mengenai keindahan berjilbab. Lebih intenslah bekerjasama dengan awak dunia fashion untuk mempopulerkan busana2 muslim yang benar namun tetap cantik dan tidak ketinggalan jaman. Atau entah bagaimana, yang jelas coba waktu dan energi para ulama dicurahkan di akar permasalahan ini. Tentu akan menghemat energi dan kontroversi ke depannya.

Work smarter, not harder.

  • Ojek perempuan

Alasan utama mereka meminta ojek perempuan dilarang adalah karena takut yang naik penumpang cowok dan lalu mereka yang non-muhrim itu berdempet2an. 

Jujur saja (dan mohon maaf sebelumnya) itu alasan terbodoh yang pernah saya dengar. Memangnya ojek laki2 tidak mengangkut penumpang perempuan??
Ibaratnya membidik suatu target (yaitu agar non-muhrim tidak berdempetan), tapi anak panahnya malah menancap jauuuuhhh....... dari sasaran!

Apa yang kalian takutkan itu, yang jadi dasar kalian meminta fatwa itu, akan tetap terjadi, dengan atau tanpa adanya ojek perempuan. Lalu menyelesaikan masalah kah apa yang kalian lakukan ini?

Sebaiknya ojek perempuan justru dihimbau untuk mengangkut penumpang perempuan saja, agar kami2 ini tidak mesti naik ojek laki2. Maunya kalian mencegah non-muhrim berdempetan, nggak taunya fatwa ini (jika jadi disetujui MUI nanti) malah makin mendukung terjadinya non-muhrim yang berdempetan karena para perempuan tidak memiliki pilihan ojek yang sesama perempuan juga.




Yang membuat saya miris, kenapa butuh seorang mualaf untuk menyentuh soal kemusyrikan yang sudah terjadi berurat berakar di negeri ini dan terpampang dengan sangat nyata di depan mata kita semua. Jika memang para ulama adalah benteng agama, tolong bentengi umat dari hal2 yang lebih krusial ini.

Saya nggak menafikkan segala kebaikan yang para ulama selama ini lakukan. Mereka juga sudah berbuat banyak untuk umat. Hanya saja, kalo boleh diibaratkan, di mata saya para ulama itu seperti orangtua yang selalu membantu anaknya belajar pelajaran sekolah, selalu menyuapi makan anak, memandikan anak penuh kasih sayang, tapi.... tidak melarang anak tersayangnya itu jajan es sirup tiap hari, padahal orangtua itu TAHU PERSIS kalo es sirup itu mengandung ribuan zat kimia berbahaya yang bisa mematikan jika dikonsumsi terus menerus.

Mungkin kurang tepat analogi saya, tapi kurang lebih begitu untuk soal musyrik ini.

Saya tidak meminta apalagi memaksa siapapun untuk sependapat dengan saya, ini semata2 hanya pendapat saya pribadi. Saya sangat menghormati perbedaan di antara kita, terutama di antara para sahabat blogger :)








another ps: 
minimal gambar2 kali ini bener2 mendukung tema postingan kan? ;P
niat banget? oohohoohoo.. iya dongx, kalo ga niat gue ga bakalan bikin ini blog ^.^ nuhun ah...



.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

9 komentar:

big sugeng mengatakan...

Saya setuju, makasih yaa pencerahannya. Mohon maaf atas komentar saya.
Kita adalah manusia yang tidak sempurna, demikian juga para ulama juga manusia biasa.
Saya sendiri "tidak sehaluan" dalam maslah tertentu dengan mereka. Kalau saya sih melihatnya kok sepertinya selalu ada kecenderungan upaya global untuk memojokkan Para Ulama yang kemudian bisa mengaburkan ajaran Islam bagi para muslim awam seperti saya ( tahapannya mungkin krisis kepercayaan kepada Ulama dengan berita2 kontroversi, tahap berikutnya krisis kepercayaan terhadap Islam, itu yang saya takutkan). Di desa2 di kampung dan daerah terpencil banyak sekali para da'i yang dengan ikhlas berdakwah tanpa ada dukungan dana tanpa ada dukungan media. Mereka adalah da'i da'i yang iklhas

Tyka mengatakan...

Kalau saya sih melihatnya kok sepertinya selalu ada kecenderungan upaya global untuk memojokkan Para Ulama yang kemudian bisa mengaburkan ajaran Islam bagi para muslim awam seperti saya ( tahapannya mungkin krisis kepercayaan kepada Ulama dengan berita2 kontroversi, tahap berikutnya krisis kepercayaan terhadap Islam, itu yang saya takutkan)

>> setuju sama Big Sugeng.

http://ndutyke.wordpress.com/

Si_Isna mengatakan...

wuih... bener2 seperti dalam kelas perkuliahan, des...
kalau ada yg masih ga ngeh sama penjelasan kamu diatas, ga tau lagi deh mesti diapain tuh orang... hihihii...

kalau saya ijin copy tulisan kamu ini boleh ga ya...???
mo saya sodorin langsung ke bawah hidung salah satu temen saya yang suka sok tau soal fatwa.
boleh ya,ya... :P

de asmara mengatakan...

untuk soal 'media cenderung selalu mencari celah untuk memojokkan ulama (atau islam)' saya pun sependapat.
apa yg saya bahas di atas lebih khusus ke soal fatwa saja, mungkin perlu tema/postingan lain utk kasus 'hobi'nya media tadi.

mestinya ulama jeli melihat kecenderungan ini dan lebih berhati2 lagi dlm bersikap (entah berdakwah, bertindak, atau mengeluarkan fatwa) agar media tidak menemukan celah itu dg sebgitu mudahnya.

mas Sugeng, thanx ya :) dan please jgn minta maaf, masing2 kita berhak memiliki pendapat kok...

de asmara mengatakan...

@Isna
silakan jeeeung... tapi kalo dia masih kekeuh sama pendapatnya ya udah. you've done your part :)

Kabasaran Soultan mengatakan...

Hm.....
Ini pencerahan yang sangat mantap deh...
Unique.

Salut

Syifa Ahira mengatakan...

yup.. setuju... seharusnya yang disuarakan adalah akar permasalahan, bagaimana menjalankan islam secara khaffah, paling kurang mendekatinya.. bukan sembarang larang ini larang itu yang sebenarnya bukan inti masalah..

tata mignone mengatakan...

semua bebas copas dan menyebarkan tulisan si de asmara ini..hahahaha. setujuuuuuuuuuuuuuu sama kamu minako....

de asmara mengatakan...

akhirnya mako kino komen juga di blog gue ;P

Posting Komentar