28 Des 2009

Meski dalam perbedaan



Sedih.

Hhhhhh........... bener2 sedih.

Rasanya pengen banget cuma menulis satu kata itu aja di postingan kali ini. Tanpa penjelasan tambahan. Rasanya itu cukup mewakili apa yg lagi gue rasain.

Ya mendadak sedih sore ini. Dan sedih yang klasik banget. Kenapa klasik? Karena alasan yang melatarinya pun sudah sangat usang, tapi nggak kunjung menjadi TIDAK populer.

Fyuuhh ... sbnrnya gue rada 'takut' nulis tema yg bakal gue tulis ini, takut dikira mengundang isu SARA. Tapi...... ah ini kan rumah gue sendiri, tempat gue bebas nyurahin apa pun yang gue pikirin dan rasain. Dan satu hal, gue nggak mengundang siapapun untuk datang kemari (kecuali 'seseorang'). So, siapapun yg merasa bakal keberatan dengan tema2 SARA, silahkan membalikkan badan dan menutup pintu rumah ini.

Beberapa tahun belakangan, gue sangat menghindari terpancing untuk menanggapi tema2 SARA di ruang publik. Meskipun itu niatnya untuk sekadar meluruskan, gue sekarang sangat-sangat berusaha menghindar.

Karena..... gue lelah dan bosan.

Lelah dan bosan mendapati pertanyaan yang itu2 lagi, lelah dan bosan mencoba memberi penjelasan yang berulang2, dan meski sudah dijelaskan sedemikian rupa mereka yang berseberangan prinsip itu toh tetap tidak akan memahami dan menyetujui apa yang kita telah jelaskan.

Pada akhirnya, bagaimanapun juga, masing2 tetap memandang buruk pihak lainnya. Ya Tuhan, saya benar2 sedih, sediiihh..... sekali. Bukan sedih karena agama gue dipandang buruk, tapi lebih karena prasangka2 buruk itu terus saling ditembakkan ke arah saudara2nya sendiri.

Pada titik gue akhirnya memutuskan untuk bersikap apatis dan masa bodo, tiba2 sore ini gue dikejutkan oleh status FB seorang teman yang sangat dekat dan baik selama ini....

baru tau kl ternyata "nyelametin" itu dosa. hey you, tau apa tentang dosa?hell yeah.. itulah perbedaannya :) and off course, we spread love to EVERYBODY, no matter what..

Ya, Natal baru saja lewat. Sebagian umat muslim ada yg memberi selamat, sebagian ada yang tidak.

Sebelum gue berceloteh lebih jauh, bagaimana kalo kita sepakati dulu beberapa hal mendasar ini:

  • Agama termasuk salah satu hal yang sifatnya prinsip dan diyakini kebenarannya oleh penganutnya.
Kalo emang bukan prinsip, bagaimana kalo gue tantang untuk pindah agama detik ini juga? Maukah? Tentu tidak. Minimal nggak semudah itu, karena ada alasan2 prinsip yang kalian yakini kebenarannya di dalam agama yg kalian anut.

  • Masing2 agama ibarat rumah. Penganutnya adalah penghuni rumah itu. Dan sebagaimana sebuah rumah, tentu punya peraturan2 yang dianggap baik untuk penghuninya.
Peraturan di rumah A, tentu ada perbedaan2 dengan peraturan di rumah B. Di rumah gue ada peraturan maksimal pulang jam 10 malam, sementara di rumah tetangga gue jam 12. Apakah tetangga gue berhak menggugat orangtua gue untuk merubah jam malam jadi jam 12 juga?

Jawaban warasnya adalah tidak. Kita punya peraturan di rumah kita masing2, kita mentaati peraturan di rumah kita masing2, dan kita menghormati perbedaan peraturan di antara tetangga kita dengan tidak memaksakan peraturan kita untuk berlaku juga di rumah tetangga. Karena apa yg baik di rumah kita, belum tentu baik bagi penghuni rumah tetangga kan?




Oke, mungkin 2 kesepakatan di atas cukup. Kalo ngga setuju, boleh ikut menutup window ini. Tapi kalo setuju, mari kita lanjut :)

Prinsip dasar yang membedakan agama yang satu dengan agama yang lain biasanya adalah masalah KETUHANAN. Nggak perlu bicara yang lain2 dulu, hal pertama itu saja dulu.

Ada satu hal yg akhirnya gue pahami: Tuhan kita semua memang hanya ada satu, tapi masing2 kita belum tentu mengimani Tuhan yang sama.

Mungkin ada yg protes: oke mungkin cara menyembahnya beda, penggambarannya beda, penyebutannya beda, tapi sesungguhnya Tuhan yang kita sembah sama. Jadi jangan dipermasalahkan!

Kalau memang kamu termasuk yg protes itu, berarti kamu mengakui bahwa Yesus juga sama dengan Allah dalam Islam, sama dengan sang Buddha, sama dengan Tao? Berarti kamu mau mengakui bahwa konsep2 ketuhanan Allah adalah benar? Kalo mengakui Allah adalah benar Tuhan, berarti juga mengakui apapun yang disabdakanNya juga adalah BENAR??

Apa yang baru saya sebut adalah gerbong logika teologi.

Mengakui sebuah konsep ketuhanan adalah gerbong masinis, lalu setelah kita mengakui kebenaranNya, otomatis gerbong2 di belakangnya mengikuti: yaitu kita mengakui segala yang dikatakanNya adalah benar dan baik.

Sementara antara agama yang satu dengan agama yg lain memiliki konsep ketuhanan yang berbeda2, dan begitu juga dengan aturan2 detil di dalamnya. Jadi kita nggak bisa sebegitu naif bilang setiap Tuhan yang disembah itu sama, karena sesungguhnya tidak. Kalo memang sama, kenapa kamu menggugat apa yang diajarkan oleh Tuhan dalam Islam? Itu karena kamu tidak percaya dengan Tuhan dalam Islam :)

Dan sesungguhnya itu tidak mengapa, darling, itu sepenuhnya hak kamu.

Sebagaimana saya juga menjalankan hak saya............

Selamat Natal adalah Selamat Hari Kelahiran Tuhan. Bukankah begitu makna dasarnya?

Kami senang dengan spirit yang menggaung di hari Natal: suka cita, kasih terhadap sesama, berkumpul dalam kehangatan dengan keluarga dan kerabat.... mirip2 dengan spirit Lebaran. Maka sudah cukup tepat jika yang diucapkan adalah "HAPPY HOLIDAY!" dengan tulus.

Tapi tidak lebih dari itu. Karena memasuki wilayah ucapan 'SELAMAT NATAL' berarti sama saja mengucapkan 'SELAMAT HARI KELAHIRAN TUHAN'. Sementara Tuhan di keyakinan kami tidak memiliki hari kelahiran, ada tanpa awal dan akhir.

Apa yg kita yakini berbeda. Itu saja.

Jika kamu meributkan, mempertanyakan, atau memaksakan untuk merubah apa yg kami yakini di rumah kami, ..... bagaimana jika dibalik? Maukah kamu jika apa yg kamu yakini di rumah kamu diributkan, digugat, dan dipaksa ubah oleh tetangga kamu?

Pasti kamu akan bilang "Bok, ini rumah2 gue sendiri, peraturan2 buat orang rumah gue sendiri, kenapa lo yang repot? Emangnya ini peraturan diterapin di rumah lo?"

Ya, begitulah. Toleransi beragama bukannya mengucapkan selamat hari raya tapi kenyataannya perang jalan terus, toleransi beragama adalah membiarkan umat beragama saling menjalankan keyakinan masing2 dengan tenang, selama itu tidak mengganggu kepentingan umum.


Agama gue nggak mengajarkan membenci agama lain.

Sekian lamanya umat2 beragama lain hidup aman dan tenang di bawah kepemimpinan Rasulullah. Bahkan hingga wafatnya, beliau setiap hari menyuapi seorang tua buta Yahudi yang menjadi pengemis di tengah pasar. Orang tua Yahudi itu sambil disuapi Rasul, sambil terus mengutuk dan memaki2 Muhammad yang sangat dia benci, tanpa dia tahu bahwa orang yang dimakinya itulah Muhammad. Muhammad tidak pernah menanggapi dan terus menyuapi orang tua itu dengan penuh kelembutan.

Suatu hari Rasul wafat, dan sahabatnya Abu Bakar menggantikan Rasul menyuapi pengemis tua itu. Tapi orang tua itu marah2 dan berkata "Siapa kau?!! Kau bukan orang yang biasa menyuapiku tiap hari! Orang yang biasa menyuapiku biasanya menghaluskan makanan yang diberikannya terlebih dahulu hingga tak payah mulutku yang ompong ini mengunyah!".

Mengalir airmata Abu Bakar sambil menjawab, "Yang biasa menyuapimu telah meninggal hai Bapak Tua." Pengemis tua itu terkejut, lalu bertanya siapa sesungguhnya orang baik yang selalu menyempatkan diri memberinya makanan tiap hari itu. Ketika Abu Bakar menjawab Muhammad, orang tua Yahudi itu menangis sejadi2nya.... Dia tidak menyangka orang yang menyuapinya, yang selama ini selalu bersabar mendengar makiannya tentang Muhammad, ternyata adalah Muhammad sendiri. Dan dengan itu dia menyatakan masuk Islam.

Riwayat di atas pasti tidak populer di kalangan saudara2 yang berbeda keyakinan. Yang kalian tau, Muhammad adalah orang kejam yang suka perang. Dan agama yg dibawanya hanyalah menganjurkan perbuatan buruk dan membenci agama lain. Seberapa jauh kalian mengenal beliau? Dari sisi mana kalian mendapatkan berita tentang beliau? Berimbangkah cerita yg kalian dapatkan?  

Lihatlah lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana.

Jika memang enggan melihat lebih dekat, jangan menghakimi, sebagaimana kamu juga tidak ingin keyakinanmu dihakimi.


Jangan menghakimi terlalu jauh sesuatu yg kita tidak begitu mengerti.

Kalian pun tentu gusar dan lelah dengan tema perdebatan Trinitas, bukan? Kalian marah dibilang memiliki 3 Tuhan, bukan? Kalian merasa penjelasannya terlalu panjang dan dalam serta melibatkan keimanan dari hati untuk memahami Trinitas, bukan? Dan kalian lelah melihat orang2 ini yg tidak tau apa2 tapi terus-menerus menghakimi soal Trinitas ...... bukan begitu?

Begitulah yg juga gue rasakan saat orang2 lagi dan lagi menggugat soal poligami, jilbab, mengucapkan selamat hari raya agama lain, dll.... dll....

Once again, jangan menghakimi terlalu jauh sesuatu yg kita tidak begitu mengerti.


"KENAPA SIH HARUS MERASA AGAMANYA YANG PALING BENAR??"


Itu pertanyaan teman Nasrani di salah satu reply status FB tadi.

Bukan merasa paling benar, karena kebenaran yang mutlak... hanya milik Tuhan semata. Tapi merasa apa yang diyakininya adalah benar (tanpa ada kata 'PALING'), itu suatu keharusan. Kalau nggak yakin itu BENAR, so buat apa diyakini? Iya ngga?


Hanya ada satu jendela di hadapan kita semua.

Mungkin engkau mendongak dan kau mengatakan bahwa yang berada di luar jendela adalah awan putih yang berarak.

Mungkin dia memandang lurus dan ia dengan yakinnya berkata bahwa yang berada di luar jendela adalah pohon besar yang kokoh.

Dan mungkin aku menunduk, dan dengan keterpesonaan yang sama aku tegaskan bahwa yang berada di luar jendela adalah hamparan rerumputan nan hijau.


Yakinlah dengan kebenaran menurut sudut pandangmu, dan hargailah kebenaran dari sudut pandang orang lain, meskipun itu berbeda. Menghargai toh tidak berarti harus sependapat, atau memaksa orang untuk sependapat.

Percayalah, jika ada sesama muslim yang ingin menyakitimu hanya karena keyakinanmu bukan Islam, maka kamu bisa ongkang2 kaki, karena saya yang akan maju melawannya.

Dan saya jamin, apa yang saya lakukan itu lebih sejalan dengan spirit Islam.

Ada hal2 yg 'aneh' dalam aturan 'rumah'mu di mata saya. Ada hal2 yang 'aneh' dalam aturan 'rumah' saya di mata kamu. Nggak berarti kita berhak untuk memprotesnya.

Setiap tindakan dan doktrin dalam SETIAP agama, tidak sesederhana yang kita pikir. Ada alasan yang mendalam yang jadi esensinya.Yang mungkin, terlalu panjang untuk saya posting di reply window yang mungil di status FB-mu :)



Karena berbeda kalian membenci
Karna tempat berpijak tak satu kita terbelah
Dari seribu keengganan tuk merangkul pundak
Tak tersisakah satu ingatan bahwa kita semua bersaudara
Darah Adam didirimu, mengalir pula di nadiku

Jangan tampikkan rasa ini
yang tak ingin mencibir akan setiap warna warni
dan dari keragaman cara berpikir tiap insan
dan pelabuhan keimanan yang jadi pilihan

Aku tetap mencintaimu,
saudara-saudaraku……

Aku tetap mencintaimu,

___meski dalam perbedaan___


puisi yg dibuat 3 tahun lalu, 25 November 2006

ps: dengan juga tidak menghakimi saudara2 saya yg muslim yg juga mengucapkan selamat Natal pada saudara2 saya yg Nasrani....

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

10 komentar:

Gilang Wicaksono mengatakan...

ak mulai ga ngasi ucapan selamat natal waktu sma setelah dikasi tau temen. dan sampe skrang ga ada masalah, padahal byk bgt temen baikku yg non-muslim, mereka OK2 aja

nah pas natal ini ak yg dah lama ga utak-atik FB (kcuali bwt main mafia) iseng2 ngecek hadiah natal yg ak dapet. eh gara2 mousenya suka dobel klik sendiri jadinya ak malah ngsi hadiah natal ke semua org di fren listku. speechless, jadi trauma main fb>.<

si kalum dapet hadiah natal dari ak ga?T_T

Kabasaran Soultan mengatakan...

Karena berbeda kalian membenci
Karna tempat berpijak tak satu kita terbelah
Dari seribu keengganan tuk merangkul pundak
Tak tersisakah satu ingatan bahwa kita semua bersaudara
Darah Adam didirimu, mengalir pula di nadiku

Jangan tampikkan rasa ini
yang tak ingin mencibir akan setiap warna warni
dan dari keragaman cara berpikir tiap insan
dan pelabuhan keimanan yang jadi pilihan

Aku tetap mencintaimu,
saudara-saudaraku……

Aku tetap mencintaimu,

-meski dalam perbedaan-



Luar biasa puisi ini.

Sebuah ulasan yang mencerahkan tentantang suatu keyakinan.
Satu hal yang hampir semua agama bisa menerimanya adalah bahwa TUHAN sendiri tidak akan menghukum umatnya sampai tiba waktunya yaitu di hari pembalasan.

Salut dengan postingan ini.

Si_Isna mengatakan...

mungkin itu salah satu kekuatan agama kita, des...
toleransi yang besar terhadap agama lain, yang mungkin disalahartikan oleh mereka sebagai sebuah kelemahan, atau justru buruk di mata mereka...

yah, paling ga kita taulah bagaimana terlihat baik di mata Allah...
itu yang paling penting...

Anonim mengatakan...

des, aku ga pernah bilang aku yg paling benar... dan jg ga menghakimi siapapun krn pada dasarnya aku hanya diajarkan untuk memberi kasih sayang kepada siapupun.
tanpa terkecuali. (tanpa terkecuali: tidak ada batasan suku, agama, ras, budaya, dll..)
cuma rada2 kecewa aja krn yg terdekatpun ga mau berbagi sukacita dgnnku..
(tp memang sudah seharusnya aku terbiasa menjadi kaum minoritas..tp tidak masalah..)
ucapan happy holiday yg km yakini lebih benar pun tidak terucap.. sedih bgt des..
tp sekali lagi aku tidak memaksa..

biar bagaimanapun km tetap sahabatku.

Newsoul mengatakan...

Ya berbeda itu biasa. Pada saat libur tanggal 25 Desember, kepada teman-teman nasrani saya mengucapkan "Selamat merayakan Natal". Pada saat saya mengucapkan itu, di kalbu dan jiwa saya Natal adalah Perayaan kelahiran Nabi isa AS. Itu saja, tidak lebih tidak kurang. Berbeda itu memperkaya khazanah. Berbagi perhatian, sukacita kepada sesama itu sebuah sikap yang ditunggu bagi indahnya kedamaian semesta ini.

de asmara mengatakan...

@anonim:

jgn merasa minoritas. saya ikut sedih kl kamu berpikir dg cara itu. sekali lg ini soal Aqidah semata. andai saya tinggal di Amerika yg mayoritas Nasrani pun, aqidah saya tetap harus saya tegakkan.

baca ini ya, say: http://asmaraasmara.blogspot.com/2009/12/meski-dalam-perbedaan-pt2.html

Tanti Kursyaf mengatakan...

mmmm...mau komen..tapi ga sabar mau baca yang part 2 dulu yah... :)

Vicky Laurentina mengatakan...

Mm..sebenarnya saya heran kenapa topik ini masih harus diperdebatkan. Agama satu dan agama lainnya tidak ada yang lebih baik satu sama lain kok. Tiap agama sangat individual, belum tentu memeluk agama yang cocok dengan orang satu, akan sama cocoknya dengan orang lain. Maksud saya proses memeluknya (memahami dan mengamalkannya), bukan agama itu sendiri.

Pada dasarnya, orang-orang yang merasa agamanya paling benar sendiri itu, adalah cerminan nyata sifat picik.

ndutyke mengatakan...

aku setuju sama isi postingan ini mbok de...

I Made Maha Dwija Santya mengatakan...

Hi DE ASMARA, salam kenal, saya Maha Dwija.

Saya suka dengan tulisanmu ini.
Bukan karena saya seagama denganmu.
Saya Hindu.
Tapi tulisanmu sungguh menyentuh. :)

Posting Komentar