5 Mei 2010

Etika itu merepotkan !!

 .

"Mas ***(sensor ye?).... tolong dong bilang ke siapa kek yang berpengaruh di sini, jangan terlalu mengeksploitasi tayangan yang serem2."

Suatu hari di ruangan grafis

"Serem2 itu maksudnya gimana?"

"Ya, sebangsa kaya' orang kesetrum pas kebakaran waktu itu, masa ditayangin dari kelojotan ampe matinya? Trus korban2 bencana yang bentuknya udah mengenaskan. Trus waktu itu juga sempet ada kuda2 yang berkeliaran di jalan trus ketabrak mobil sampe kudanya terpental, masa diputer berulang2 buat closing acara Top 9 sampe credit title-nya abis? Itu tayangan si kuda ditabrak mobil ada kali 30 kali diulang2, sadis banget...."

*ketawa* "Lah ya emang kenapa? Itu kepilih sebagai top picture kan?"

"Ya nggak gitu, mas. Cuma kok kaya'nya ga pantes untuk dikonsumsi sama mata gitu lho."

*ketawa lagi* "Kan emang gitu kejadiannya, kenyataannya. Masa mo ditutup2i?"

"Efeknya nggak baik kan? Masa ngga ada kode etik tayangan sih?"

"Efek apa? Itu tayang jam berapa? Udah malem kan? Anak2 udah pada tidur kan?"

Gue selalu speechless saat dihadapkan sama logika.


Meskipun tayangan kekerasan di TV kita nyaris nggak memandang jam aman untuk anak2, tapi oke, anggaplah yang kita bahas sekarang ini tayangan2 'kurang pantas' yang tayang di jam2 malam. Anggaplah yang menonton semata2 orang dewasa (meski jam 9 masih banyak anak2 yg melek).

Oke, anggaplah gue nggak bisa menunjukkan data statistik efek hasil dari tayangan2 di media (padahal kalo lo mau googling dengan keyword itu gue jamin lo dapet data ilmiah yang akurat dan mencengangkan...).

Sama seperti saat gue protes tayangan banci dulu.

Ya, idealnya sih kita sebagai orangtua yang harus terus membimbing anak, termasuk konsumsi tontonannya. Tapi seberapa banyak sih kondisi ideal seperti itu? Bagaimana dg mereka yang orangtuanya acuh atau sibuk? Bagaimana dengan mereka yang TIDAK PUNYA orangtua? 

Mana tanggungjawab moral media?

Di situlah gue sedih sekali. Karena ini bukan cuma soal anak yang terlahir dari rahim kita sendiri. Egois sekali kita? Anak2 di luar sana bertebaran dengan berbagai kondisi yang belum tentu seberuntung anak2 kita.

Nah kan, gue jadi belok lagi ke anak2.

Bukan, kali ini ayo kita anggap bahwa tayangan2 'kurang pantas' tadi hanya orang2 dewasa saja yang nonton.

Kalo udah gitu, ga ada masalah dong Des? Orang dewasa kan dianggap sudah mampu memilah mana yang benar dan salah?

Mo ngomong apa gue kalo udah diskak-mat gitu?

Tapi...... hati gue kok tetep ga terima ya liat orang yang kesetrum itu ditayangkan berulang2 tanpa sensor, tanpa di-blur, bahkan seperti "Ayo nikmati suguhan ini....". Ya, seperti memberi makan pada sisi sadis yang memang ada di tiap jiwa manusia.

Saat ada berita seorang matador tertanduk telak2 di perutnya oleh banteng, tembus, dan dia tewas, gue langsung bertaruh sama Gembul... "Taruhan, gambar ini pasti ditayangin berulang2 ampe gila pas closing, sampe credit title abis."

Dan? Benar!

Bukannya dulu kalo ada gambar berdarah2, atau korban bencana or kecelakaan, atau apapun yang mengenaskan gitu selalu di-blur ya? Baik itu di TV atau di majalah? Dan bahkan kadang dianggap ngga etis untuk tayang. Kenapa sekarang jadi bebas merdeka gini?

Dengan alasan 'DEMI FAKTA DEMI KEBENARAN' ?? Efek reformasi kebebasan informasi?

Jadi kalo misal ada yang ngerekam kejadian seorang ibu dibunuh anaknya sampe ususnya keluar2 itu mesti ditayangin juga atas nama fakta dan kebenaran???

Saat gue menunduk lewat di depan orang yang lebih tua, itu juga ngga ada alasan logisnya. Tapi itulah etika.

Saat kita bicara dalam forum resmi sambil ngunyah2 permen karet, sebenernya secara logika juga memang ga merugikan siapa2. Tapi dimana etika?

Saat lo tersenyum ramah dan gue memilih untuk memandang lo dengan dingin tanpa alasan apapun, logika bilang sih itu hak gue. Tapi ..... silakan kalian pikir sendiri.

Jadi saat gue berharap kode etik tayangan kembali diterapkan, gue tidak berharap logika lo yang berbicara, tapi nurani saja.


Jangan terlalu menuhankan logika. Hidup kita ini terbangun atas sokongan banyak tiang, logika hanya satu tiang yang tidak lebih besar dari tiang lainnya.



side notes:
  • Mas2 di cerita tadi aslinya gak jahat kok, baik sekali malah. Jangan prejudis ya :)
  • Tulisan ini sudah lama sekali ingin gue buat, tapi trigger-nya adalah tulisan om NH tentang bubble gum hari ini.




.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

8 komentar:

hadidot mengatakan...

saat logika bermain,hati nurani gak klop maka memang dibutuhkan iman sebagai penyambung rasa.

kalau di luar negeri gak ada tayangan2 DP (disturbing picture) gitu yg boleh tayang tanpa diblur. mereka menghargai diri mereka sendiri,apa gunanya kita melihat detil hal2 seperti itu?

kita harus menjaga pandangan,karena mata adalah jendela hati,hati bisa jadi rusak melihat hal2 seperti itu.

kalau orang mati ketabrak cukup bekas jalanannya aja yg disorot,orangnya gak perlu ditampilkan sebenarnya. tapi itulah bisnis,kalau gak gitu gak menarik tayangannya des,jadi atas nama uang atau atas nama bisnis semuanya jadi sah

*khawatir dengan masa depan anak2 saya sendiri kelak bila sudah berkeluarga :(

Anonim mengatakan...

salut..ternyata seorang des_ya masih kritis sampai hari ini..hehehe.

-RAE

big sugeng mengatakan...

Saya memang sedih lihat perkembangan pertelevisian sekarang, coba lihat kasus priok, ketika seorang satpol PP yang sudah tidak berdaya dipukul diinjak ditendang.. dan itu sepertinya sebagai good news?

Presenter TV sering bertanya nggak nyambung? Bikin kesimpulan sendiri2 dan dengan celetukan sesuai opini dia dan diulang2

Tayangan yang kebanci-bancian...

Liputan kasus yang sudah diluar konteks pemberitaan, sampai pak rt diwawancariai : istrinya cantik nggak? pakai baju apa dsb....

Newsoul mengatakan...

Siiip. Batasannya mungkin rasa nyaman aja des. Logika dan rasa (etika, dsb) harus klop dengan sesuatu yang disebut "kenyamanan". Kenyamanan bagi siapa, ya bagi semua pihak. Tetap saja ada batsan/norma umum yang harus dipakai.

Gilang Wicaksono mengatakan...

kok ak ngerasanya mas *** itu orangnya cool abis ya, jawabnya nyante banget d(^_^)

video yang kuda ditabrak ama matador ditanduk banteng itu saya masih ok2 aja ngliatnya

yang ga kuat tuh pas liat satpol pp yang udah terkapar tapi masih dipukul2 n diinjek2 orang. reflek mata langsung merem, ga tega >.<

Awan Diga Aristo mengatakan...

tapi.. emang logis kan?
=p
Bcanda mbak.. maap :)

de asmara mengatakan...

.
didot
stuju bulet2, dot ^^
tantangan jadi ortu skrg tuh berat banget yak?

rae
yudiii, kok lo bisa nemu blog gue?! btw, its not des_ya.... tapi de_sya, hehe. lupa yah, yudinamaku?

sugeng
yah biasa maaas, atas nama 'DEMI FAKTA & KEBENARAN' tadi itulah :P
.

de asmara mengatakan...

.
newsoul
harus ada keseragaman batasan memang, yuk. ga bisa pake standar personal

gilang
ah aslinya gak cool sama sekali kok. bawel n heboh bgt malah. makanya gue bilang jgn prejudis apapun, kekeke.

itulah Ru, standar ga tega orang tuh beda2. ga bisa ngikutin standar masing2 orang, mesti ada aturan yg umum. sbnrnya sih udah ada kode etik jurnalistik, cuma belakangan ini dah kebablasan...

awan
kamu saya maapkan *sambil tendang* ^.^
.

Posting Komentar