11 Mar 2010

9 maret 2010

Betapa rentannya hidup ini ya...

Ada si sakit, lalu ada si 'sehat' yang menjenguknya. Logika kita terbiasa menatap si sakit dengan penuh kecemasan, takut waktunya tak lama lagi bersama kita. Lalu ironi itu terjadi, si 'sehat' pergi lebih dulu, dengan penuh ketiba-tiba'an.

Persis seperti itulah yang terjadi dengan om gue 2 hari lalu, tanggal 9 Maret 2010 kemarin.

Sepulang kantor, ia berniat menjenguk temannya yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit. Mungkin ia kecape'an, atau mungkin sakit jantungnya kumat, atau apa gue nggak tau..... yang jelas ia tidak pernah sampai ke Rumah Sakit yang dituju. Supirnya menawarkan om gue yang mendadak nampak tidak sehat ini untuk periksa ke RS saja, tapi ditolak, akhirnya mereka memutuskan pulang ke rumah.


Dan tidak lama setelah tiba di rumah, beliau tiada. Innaalillaahii...

Kita sungguh tidak pernah tahu kapan waktu kita berakhir. Meski setelah mereka pergi, barulah kita mulai menguntai ingatan akan betapa banyaknya pertanda dan salam perpisahan yang disampaikan calon almarhum sebelum kepergiannya.

Dan kemudian kita menyesali segala kesalahan yang pernah kita perbuat kepadanya semasa hidup, dan yang paling membuat hati perih adalah penyesalan akan perbuatan2 baik yang belum sempat kita berikan....... , padahal sesungguhnya ia sangat layak menerimanya. Penyesalan yang terlambat.

Bukankah penyesalan selalu datang terlambat? Nggak juga.

Banyak penyesalan2 yang bisa kita lakukan detik ini, tanpa mesti menundanya hingga di hari semua tak bisa lagi ditarik mundur.

Ketidaktahuan terkadang bisa menjadi sumber kekuatan kan? Karena kita tidak pernah tahu kapan orang2 tersayang -atau bahkan diri kita sendiri- meninggalkan dunia ini, maka bersikaplah selalu siaga tiga setiap saat. Bersikaplah seolah ini adalah hari terakhir kita bersama.

Gue ngga sedang mengajak kita untuk menye2 menjalani hidup. Justru.... tertawalah sebanyak2nya, cerialah karena rasa bersyukur, berbuat baiklah sebanyak2nya....

"Memangnya kalo kamu berdoa pada Tuhanmu kamu akan diselamatkan? Hey, jadi apa jawaban dari doamu tadi, apakah kita akan selamat? Apakah sholatmu akan menyelamatkan kita dari kematian?" tanya seorang pendaki gunung yang atheis setengah meledek pada teman sesama pendaki yang baru selesai berdoa setelah sholat dzuhur di tengah misi penyelamatan mereka di atas pegunungan Himalaya yang saat itu sedang rentan dengan badai dan longsor.

Setelah mengusap wajahnya usai berdoa, pendaki itu menjawab "Setiap manusia pasti mati, Bung..." lalu ia menatap dalam2 temannya yang atheis tadi "Bukan soal apakah kita akan tetap hidup atau akan mati, tapi apa yang telah kita lakukan di dalam hidup.... itu yang penting."

Sebuah adegan menggugah dalam film "Vertical Limit".

Selamat jalan, Om Ayik. Pada saatnya nanti, kita semua akan menyusul satu persatu ke tempatmu. Hanya soal waktu. Karena hal yang paling rapuh dalam hidup, adalah hidup itu sendiri.




.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

3 komentar:

Alrezamittariq mengatakan...

setuju....sebuah tulisan yang mencerahkan....

theordinarytrainer mengatakan...

Semoga Om Ayik tenang di Alam sana

Salam dan Doa saya

hadidot mengatakan...

pesan yg dalam,kalo gak salah beberapa hari lalu film ini tayang di trans TV deh hehehe

saya suka banget bagian yg dia harus ngambil keputusan memotong tali,keputusan dilematis yg tidak mudah,tapi harus cepat dilakukan

Posting Komentar